Jun 6, 2016

Globalisasi Budaya Pada Seni Rupa Indonesia

Globalisasi Budaya       
Untuk dapat memahami pergeseran wacana dan material seni rupa di Indonesia, penulis akan menggunakan sudut pandang globalisasi budaya. Menurut Dianne Crane, globalisasi budaya merujuk pada  transmisi dan difusi yang melintasi perbatasan nasional dari berbagai media dan seni, di mana globalisasi budaya dimengerti sebagai fenomena yang kompleks dan beragam tentang budaya global yang bersal dari negara serta wilayah yang berbeda.[2] Crane pun mencoba untuk mengkaji ulang model teoritosasi yang telah sering digunakan untuk menjelaskan mengenai globalisasi. Ia juga mengajukan model yang ia formulasikan sendiri dan mencoba untuk mendiskusikan model-model tersebut, dihubungkan dengan literatur terkini mengenai globalisasi.
Keempat model teoritisasi yang ditawarkan oleh Crane adalah: (1) Imperalisme Kebudayaan, (2) Jaringan/Arus Kebudayaan, (3) Teori Resepsi, dan (4) Strategi Kebijakan Kebudayaan. Model teoritisasi globalisasi pertama yang dimunculkan kembali oleh Crane adalah Teori Imperalisme Budaya, yang muncul di masa 1960-an yang merupakan perpanjangan aliran Marxisme sebagai kritik terhadap budaya kapitalis yang sarat dengan konsumerisme dan komunikasi massa. Teori imperialisme budaya bisa didefinisikan sebagai bentuk dominasi budaya oleh negara yang lebih kuat terhadap negara yang lebih lemah di mana prosesnya berasal dari pusat menuju ke pinggiran (center-periphery). Aktor yang paling berpengaruh dalam model ini yaitu konglomerat media global dan model ini memberikan konsekuensi terdekat yakni homogenisasi budaya karena besarnya dominasi budaya dari aktor yang lebih kuat.
Lahir dari pembacaan atas perkembangan budaya massa, model ini mendapatkan sebuah kritik bahwa konsep dari imperialisme budaya sangat samar dan mengimplikasikan evaluasi negatif dari tingkah laku dan keinginan atau maksud negara maju terutama Amerika Serikat kepada negara miskin dan berkembang. John Tomlinson mengatakan bahwa imperialisme tidak selaras dengan konsep globalisasi di mana terdapat interkoneksi dan interdependensi dari semua area di dunia, yang terjadi dalam jalur yang tidak terduga maksudnya. Meskipun demikian, model ini dianggap Crane masih menjadi perspektif yang berguna karena dapat digunakaan untuk menganalisa bagaimana beberapa aktor nasional punya pengaruh yang lebih dari lainnya pada budaya global sehingga turut membentuk nilai budaya, identitas dan persepsi global.

May 25, 2016

Idolisasi dan Ikonisasi Nge-Pop

“Come as you are, as you were, as I want you to be. As a friend, as a friend, as an old enemy. Take your time, hurry up, the choice is yours, don't be late. Take a rest, as a friend, as an old memoria.”
Sepenggal lirik lagu dari Nirvana berjudulkan Come As You Are di atas mungkin tidak asing bagi angkatan 80, dan 90’an. Lagu tersebut dirilis tahun 1991, dan saya sendiri mendengarnya pertama kali di awal 2000an dalam versi album MTV Unplugged yang dipunyai kakak saya. Berselang waktu, di tahun 2011, lagu itu dinyanyikan ulang dengan apik oleh Yuna Zarai, vokalis pop indie dari Malaysia yang sedang naik daun dan digemari oleh anak-anak muda kekinian gara-gara duetnya dengan Pharrell Williams dan produk fashion muslimnya.

Lagu dari album Nevermind milik Nirvana yang dikatakan mengubah habis-habisan posisi industri musik mainstream dunia di awal 90’an itu, detik ini mungkin sedang berada di daftar putar ponsel pintar milik para hipster di bilangan Babarsari, atau di Pasar Santa. Transformasi lagu yang merentang waktu selama 20 tahun, dari Kurt Cobain ke Yuna, juga secara langsung memperlihatkan transisi idola dan tren yang berulang, berganti, berputar, dan berlangsung terus-menerus.

Baik Nirvana, dengan Cobain sebagai leadnya, dan Yuna, menjadi kegemaran remaja pada eranya, meskipun dengan karya dan gaya yang berbeda. Sebagai idol, keduanya dipuja-puja bagai Si Pencipta, orisinalitas dan kebaruan dirinya adalah inspirasi untuk berkarya bahkan jadi panduan hidup, sekaligus dicaci maki bagi yang tidak menyukainya. Sebagai ikon, mereka menjadi representasi, penggambaran dari nilai-nilai yang sesungguhnya ingin dimiliki atau disalin oleh penggemarnya, baik nilai yang didapat dari tingkah laku si idola atau dari pemikiran si idola lewat karyanya.

Angela Berlis dalam Willem van Asselt mengutip Willem Frijhoff, membedakan idol dan ikon untuk menjelaskan politik representasi. Idol sesungguhnya hanya ada dalam pikiran si penggemarnya, fantasi yang merupakan personalitas ideal yang diproyeksikan pada seseorang; walau tetap ada relasi personal dari idol karena kehadiran idol yang nyata di kehidupan, sehingga si penggemar dapat menarik energi dari idol. Pengidolan ini muncul dan tenggelam terkait dengan kelompok kepentingan yang gilir-bergilir, gelombang fashion dan pergantian tren, serta banyak dipengaruhi media massa dan bentuk komunikasi lain. Sementara ikon, merupakan penggambaran, simbolisasi sebuah nilai, kebaikan dan tingkah laku tertentu; gambaran nilai ini yang kemudian dikenali pada kehidupan nyata seseorang.

Willemien Otten dalam Asselt, menekankan bahwa dalam ikon dan idol, alegori, simbolisme dan metafor dalam wacana yang menyertainya adalah yang sesungguhnya penting, sebagai potensi yang mampu menggugah rasa si penggemarnya. Ia menyebutkan problema utama dalam hal ini, yakni penggunaan gambar, kerja sama ikonis, dari mental ke visual dan gambar material tanpa menjerumuskan ikon menjadi idol. Baik dalam Berlis yang berupaya merunut politik representasi idola maupun Otten yang menjelaskan wacana ikonoklasme dalam kristianitas, ketakutan dan intimidasi yang pseudo-ilahiah, dapat menyebabkan kekaguman dan tabu mengenai setiap penggambaran idol, namun secara kontras juga menyebabkan peningkatan apresiasi baru terhadap wacana.

Perbincangan mengenai idol, ikon dan nilai ini sedikit banyak disinggung oleh Sebtian dan Ervance dalam karyanya yang berwarna pop, meskipun apa yang kami bincangkan waktu itu tidak menyebut Yuna sama sekali, melainkan tokoh-tokoh ikonik yang lainnya: Guy Fawkes, Nelson Mandela, dan Andy Warhol si raja panggung pop-art. Obrolan kami mengenai idol dan ikon kemudian merambah pada obyek non-manusia seperti objek alam dan binatang ketika Ervance mengusung pendapat bahwa perlu disinyalir nilai-nilai yang terdapat di diri sang pujaan, bisa jadi juga dikandung oleh pribadi-pribadi lain bahkan juga benda-benda alam. Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaiamana Sebtian dan Ervance kemudian menggunakan imaji dan teks untuk menjelaskan perihal idol dan ikon ini?

Idolisasi Ikon, Ikonisasi Idol

Baik Sebtian dan Ervance menunjukkan karya-karya akrilik di atas kanvas, kebanyakan dalam permainan garis dan warna tegas nan mencolok, dipengaruhi genre pop-art, low-brow, atau pop-surealis macam Andy Warhol, Roy Lichtenstein, Frank Stella, Sol Lewitt dan kawan-kawannya. Gaya-gaya pop tidak bisa tidak menginspirasi Sebtian dan Ervance karena latar belakang studi desain mereka. Nyatanya, kebanyakan inisiator gaya pop art dunia memang mempunyai latar belakang dari seni industrial desain.

Berbeda dengan karya serialnya di pameran tunggal sebelumnya yang realis dengan goresan pensil dan pena di atas kertas, Sebtian kali ini menawarkan karya-karya yang lebih bergaya flat, dibumbui tekstur dan elemen warna dan garis yang kontras namun berpola dan ditimpa teks dan gambar yang lebih raw dari pastel. Sebagian besar lukisannya menawarkan imaji figur yang serupa, yakni figur-figur hibrida yang natural dan mekanis, gabungan antara rangkaian mesin berknop dan bercerobong, tubuh bagian bawah manusia dan organ jantung yang saling menyatu. Organ jantung ini juga dipakai dalam pola tekstur transparan di salah satu karyanya.

Dalam sebuah perbincangan dengan Sebtian, saya mendapati bahwa kemunculan gambar-gambar mekanis dalam karyanya dipengaruhi oleh latar belakang sebelumnya yang memang mempelajari bidang teknik mesin. Di alam bawah sadarnya, onderdil-onderdil mesin selalu muncul dan digunakan sebagai salah satu preferensi utama untuk membentuk figur-figur yang telah memenuhi buku sketsanya sejak tahun lalu. Di sisi lain, ada fetisisme tubuh manusia, terlihat dari lekuk dan gerakan tubuh bagian bawah yang cukup sensual, serta jantung, memberikan denyut kehidupan yang lebih natural dan hewani pada figur tersebut.

Figur-figur ciptaan Sebtian ini menjadi penggambaran imajinatif manusia yang serupa satu sama lainnya, yang telah menjadi mekanis-industrial dan hewani. Ciri hewani secara natural terdapat dalam tubuh manusia, namun ciri industrial yang tergambar muncul karena perkembangan dunia modern yang pelan-pelan mengubah tingkah laku manusia. Di atas figurnya, tersurat teks dan imaji yang merupakan representasi dari figur Kurt Cobain dan Andy Warhol. Beberapa diantaranya merupakan judul-judul lagu dan perkataan Cobain yang banyak mempengaruhi kehidupan Sebtian, terutama juga dalam hal bermusik. Warna-warna mencolok menggambarkan suasana populer yang melingkupi kedua tokoh tersebut sebagai superstar. Dengan menyandang atribut-atribut khusus yang menimpa gambar, dapat menjadikan figur-figur serupa tersebut sebagai seorang idol atau ikon superstar seperti Warhol atau Cobain.

Satu karyanya yang menarik untuk disebut yaitu karya hitam-putih, yang berbeda dari karya lainnya. Sebtian memilih warna yang merupakan oposisi biner ini untuk menggambarkan Cobain yang sesungguhnya, sosok sederhana yang dihadapkan pada komersialisme pasar yang hingar bingar. kegemilangan rekaman di pasar yang menjadi alasan label untuk meningkatkan produktivitas Nirvana justru menjadi tekanan bagi Cobain. Berbagai konflik dihadapinya hingga akhirnya ia meninggal dengan sebuah tembakan di kepala. Tekstur tak berwarna yang mendasari gambarnya merupakan penggambaran perjuangan yang dihadapi Cobain untuk mempertahankan hidupnya, yang tidak disadari oleh kebanyakan penggemarnya karena ketenaran dan penghambaan seorang idol justru dapat mengaburkan sisi humanis. Karya Sebtian ini merupakan representasi sudut pandangnya dalam melihat ikonitas Cobain yang terjerumus menjadi idol di mata penggemarnya.

Ervance, dengan gaya yang lain, menawarkan karya pop-surealis yakni representasi realis tubuh atau benda alam yang di atas pola-pola dasar op-art atau seni ilusi optik di latarnya. Masih dengan warna-warna yang kontras dan mencolok seperti Sebtian, namun oleh Ervance warna-warna ini menjadi fungsional untuk membentuk ilusi optik tersebut. Representasi imaji ikon merupakan poin utama dari apa yang ditawarkan Ervance; sedangkan latar pola latar belakang menjadi sudut pandang lain untuk melihatnya, seperti melihat obyek yang tidak sesuai dengan kenyataannya, ilusi retina semata, dan bisa ditarik pada ilusi kognitif atau persepsi dari si pemirsa gambar.

Seperti halnya ikon dalam semiotika Pierce, konsepsi ikon merupakan simbolisasi nilai yang terberi pada sesuatu, sehingga sesuatu hal tersebut tidaklah khusus pada manusia. Hal ini mungkin yang mendasari Ervance menempatkan Semut dan Bulan, obyek alamiah non manusia di karyanya. Semut sendiri merupakan hewan yang bekerja keras sepanjang musim, tidak pernah menyerah dalam mencari jalan keluar atau pulang ke sarang, dan merupakan hewan yang hidup berkelompok, saling mendukung untuk membangun sarangnya, mencari makanan dan mempertahankan diri. Sedangkan bulan, adalah obyek antariksa yang tidak berpendar sendirinya, namun memantulkan cahaya dari matahari untuk menerangi bumi di waktu malam. Representasi nilai yang disimbolkan bulan maupun semut dan dapat disalin manusia ini secara metaforis diusung Ervance ketika menjelaskan tentang pengidolaan yang tidak harus terbatas pada manusia.

Ilustrasi Guy Fawkes [kiri], dan topeng yang dipakai kelompok Anonymous [kanan]
sumber: http://abcnews.go.com/
Representasi manusia yang diusung Ervance salah satunya adalah Nelson Mandela. Nelson Mandela, presidens pertama Afrika Selatan, tentunya dapat dikenal dengan mudah dari wajah dan penampilannya. Mandela dikenal dengan baik sebagai aktivis politik revolusioner, yang bergerilya untuk mempertahankan gerakan anti-apartheid yang kemudian oleh dunia dianggap sebagai simbol perdamaian dan kesetaraan ras. Lain halnya dengan Mandela, Guy Fawkes, yang ditampilkan di karya Ervance sebatas kepala laki-laki kulit putih, dengan kumis, topi dan kerah a la Eropa di era victorian. Sosok Fawkes di sini sesungguhnya ditampilkan Ervance sebagai simbolisme dari kelompok hactivist online Anonymous yang menyebarluaskan paham anarkisme, protes anti kemapanan dan anti pemerintahan di seluruh dunia lewat proyeknya Occupy Movement; berganti waktu simbol ini secara universal digunakan sebagai simbol dari pemberontakan populer. Adapun versi yang digunakan oleh kelompok Anonymous saat ini adalah versi minimalis dari topeng Guy Fawkes yang diciptakan ilustrator David Lloyd untuk novel grafis Alan Moore V for Vendetta yang mengilustrasikan perlawanan pemerintahan otoriter di Inggris. Dengan latar belakang a la op-art berwarna tegas merah dan hitam semakin menekankan kesan dari sifat keberanian perlawanan, gerakan kuat neo-anarkisme publik, dan sifat misterius dari kelompok Anonymous yang serupa dengan pergerakan Fawkes pada Gunpowder Plot di Inggris itu sendiri.

Perupa Populer

Apa yang ditampilkan di atas kanvas oleh Sebtian dan Ervance merupakan sebuah representasi idol dan ikon yang coba mereka tawarkan, baik secara figuratif-imajinatif ataupun simbolik, menggunakan tokoh-tokoh yang mempunyai pembeda identitas antara satu sama lainnya. Namun apa yang ditawarkan oleh mereka, tidak selalu mudah dicerna karena membutuhkan latar belakang tertentu dalam membangun persepsi yang sama atas karya tersebut dikarenakan masih minimnya kreasi metaforik yang ditampilkan. Seseorang yang tidak awas dengan internet ataupun gerakan neo-anarkisme seperti saya misalnya, mungkin tidak akan dapat mengerti karya bergambarkan kepala Guy Fawkes dan melihat karya tersebut sebagai karya representasi idol semata, dengan latar belakang ilusi optis yang dekoratif. Namun di sisi lain, karya-karya yang memenuhi bidang dengan komposisi elemen dasar rupa yang komplit, rapi dan terstruktur ini menjadi nyaman dipandang.

Kembali pada lagu—yang hanya saya ambil bait pertamanya dan cantumkan di awal tulisan ini—kemudian ingin saya keluarkan dari konteks si penyanyi dan ruangnya, saya terjemahkan dengan bebas untuk kemudian saya persembahkan pada Sebtian dan Ervance, yang sedang memamerkan karyanya di tembok putih galeri seni I Am! Lirik ini adalah undangan untuk Sebtian dan Ervance yang masih malu-malu dan sempat menolak menjajagi dunia seni rupa dengan berpameran tunggal di galeri, kendati alternatif. Sebtian dan Ervance yang kesehariannya berperan sebagai desainer paruh waktu dan organizer acara kawula muda yang populer dan aktif merasa belum berkeinginan untuk mengukuhkan diri menjadi perupa, meskipun mereka sering mengikuti pameran bersama bersama para perupa lain. Saya kira Huhum sebagai rekan komunitasnya tentunya lebih berkompeten untuk menjelaskan tentang hal ini pada tulisannya yang juga didedikasikan untuk pameran ini. Saya berharap, jika menjadi seniman adalah jalan yang ditempuh oleh Sebtian dan Ervance, saya ingin melihat karya-karya mereka yang selanjutnya, tentunya dengan bahasa yang baru, tema-tema yang lebih dekat dengan kesehariannya, untuk bisa menjelaskan segala ide yang telah mereka ceritakan kepada saya.

Sita Sarit
Pekerja dan Penulis Seni. Sedang melanjutkan kuliah di PSPSR UGM.

*tulisan ini merupakan pengantar pameran "Idola Remaja Nyeni" oleh Sebtian dan Ervance HaveFun di IAm Independent Art Space and Management, 19-31 Mei 2016.

Referensi:
Asselt, Willem J. van, Paul Van Geest, Daniela Muller, Theo Salemink (ed.), 2007,  “Iconoclasm and Iconoclash: Struggle for Religious Identity”. Leiden& Boston: Brill.
Meizel, Katherine, 2011, Idolized: Music, Media, and Identity in American Idol. Bloomington& Indianapolis: Indiana University Press.
Ramadhan, Choky dalam JakartaBeat.net, 2013. “Nirvana dan Manekin Tanpa Kepala: 20 Tahun In Utero”, , diunggah 25 September 2013, diunduh 5 Mei 2016.

RollingStone.com. “Nirvana Biography”, . diunduh 5 Mei  2016

Sep 29, 2015

kain yang hampir menutupi matamu


ingatkah kau saat aku melihat kilat di matamu
dan aku bilang matamu seperti mata elang
tajam dan berkilat-kilat
seperti ujung sendok yang tidak kusentuh hingga mienya mendingin


ingatkah kau saat aku melihat kilat di matamu
dan untaian sisa kain yang menutup kepalamu itu
jangan menutupi matamu, doaku saat itu
karena aku diam-diam menatap lekat-lekat di balik punggung kawanmu

Jun 17, 2015

Fête : Feast : Pesta

Valentino Febri - Joyfully - 90x150xm - oil on canvas - 2015

Pilihan kata Pesta yang menjadi padanan Fête : Feast, selain karena iramanya yang menarik, mengacu pada peristiwa perayaan suatu momen yang aktivitasnya memunculkan emosi suka ria dan bahagia. Meski demikian, tidak sedikit acara perayaan yang justru membuat tamunya merasa trenyuh dan syahdu ketika mengikutinya. Perayaan-perayaan yang menuntut rasa haru atau riang akan berbeda di setiap tempat, sebab makna sebuah momentum bagi tiap-tiap kelompok sosial bahkan individu dapat sangat berbeda. 

Ketika mengobrol dengan Valentino, ia dengan jujur mengungkapkan bahwa karyanya merupakan refleksi dari pengalaman-pengalaman pribadinya ketika menghadiri berbagai pesta yang diadakan oleh keluarga, selebrasi-selebrasi publik di kota Yogyakarta seperti Sekaten, bahkan perayaan dari momen-momen personal bersama sahabatnya. Melihat karya-karya Valentino di pameran tunggalnya yang ketiga ini — elemen-elemen dekoratif yang meriah dan berwarna-warni, figur-figur manusia dengan interaksi dinamis dan gestur sukacita, perjamuan berlimpah hidangan, peringatan momen-momen kehidupan — membuat pikiran saya tidak bisa lepas dari kata pesta, atau perayaan, tersebut. 

Sebagai warga kota Yogyakarta, pastinya kita tak asing dengan berbagai pesta dan perayaan. Masyarakat Jawa, secara tradisi memang dikenal banyak mengadakan selamatan untuk memperingati suatu hal, yaitu suatu upacara makan bersama dengan makanan yang telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Kodiran, seorang antropolog, menjelaskan bahwa kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup mereka telah diatur dalam alam semesta ini. Sehingga banyak acara selamatan yang kemudian diadakan dan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup supaya tidak ada gangguan yang terjadi.

Karena banyaknya acara selamatan yang ada di Jawa, Kodiran membagi acara perayaan tradisional Jawa ini secara umum dalam beberapa macam, sesuai dengan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari. Peristiwa tersebut yakni (1) selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, seperti hamil tujuh bulanan, kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara menyentuh tanah untuk pertama kali, upacara menusuk telinga, sunat, kematian, serta saat-saat setelah kematian; (2) selamatan yang berkaitan dengan bersih desa, penggarapan tanah pertanian, dan setelah panen padi; (3) selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam; dan (4) selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu dan berkenaan dengan kejadian-kejadian, seperti ketika akan perjalanan jauh, menempati rumah kediaman baru, menolak bahaya (ruwat), janji sembuh dari sakit (kaul) dan lain sebagainya. Di kampung saya, perayaan-perayaan Jawa seperti ini masih sangat banyak yang melakukan, terkecuali yang menyangkut pertanian, karena kampung saya berada di tengah kota.

Di Indonesia sendiri, yang terdiri atas masyarakat multikultural, selain perayaan tradisional khas daerah yang memang kebanyakan berbentuk perayaan ritual dan spiritual seperti contoh di atas, masih banyak perayaan dan pesta lain yang dapat ditemui. Seperti perayaan-perayaan-perayaan keagamaan, perayaan tahun baru masehi, tahun baru Cina, ataupun perayaan nasional lain seperti peringatan kemerdekaan, peringatan kejadian penting nasional lain, atau peringatan hari lahir pahlawan. Besarnya perayaan sangat terkait dengan pentingnya peristiwa yang diperingati oleh pihak pengada acara. Bisa jadi sebuah perayaan diadakan dengan kenduri besar untuk seluruh warga kampung, mengundang dalang kondang dan pengrawitnya lalu mementaskan lakon wayang semalam suntuk, bergantian dengan hiburan dangdut elekton serta jamuan selama sepekan. 

Namun ketika berbicara tentang pesta modern, kita tidak hanya berbicara tentang perayaan-perayaan besar seperti di atas. Tidak semua perayaan akan menjadi sebuah pesta, dan tidak semua pesta berawal dari sebuah perayaan. Dalam era masyarakat yang semakin konsumtif, dibarengi dengan kecepatan akses pada informasi dan kemudahan pemilikan materi seperti sekarang ini, manusia bisa menghadirkan banyak tamu, kemeriahan dan suasana pesta untuk momen-momen pribadinya sesering dan secepat ia mau. Meskipun itu demi momen yang kecil yang dapat berarti besar baginya, misal peringatan hari lahir, kemenangan atas sebuah kompetisi, perayaan purnatugas atau purnasarjana, atau kadang tidak demi apapun. Sebuah pesta pun bisa terjadi dengan hanya mengundang rekan terdekat dengan sajian delapan potong pizza, minuman bersoda dan beberapa macam makanan ringan sederhana di atas meja makan.

Kajian tentang perayaan, atau pesta itu sendiri sangatlah menarik dan bukanlah merupakan hal yang baru. Gejala pesta-pesta sosial dan seremonial telah sejak lama menjadi obyek penelitian antropologis. Ketika saat ini banyak orang yang mencibir aktivitas pesta yang merupakan pemborosan sumber daya, halangan untuk pembangunan ekonomi dan aksi hedonis semata; sebetulnya perdebatan yang sama telah muncul jauh sebelumnya. Seorang antropolog asli Flores, Hj Daeng pernah juga melakukan kajian pada awal dekade 80'an dengan kasus Pesta Boka Goe, sebuah pesta tradisional Flores yang pada saat itu sudah mulai menghilang.

Dalam tulisannya, Daeng menunjukkan bahwa kecemasan tentang persaingan antara pesta dan usaha-usaha dalam mencegahnya barangkali tidak tepat. Ia mengatakan telah nampak dalam studinya, dan studi-studi sebelumnya bahwa pesta semacam itu memainkan peranan tertentu yang kadang-kadang penting sekali dalam masyarakat yang melaksanakannya. Ia tidak memungkiri bahwa memang persaingan untuk prestise merupakan fungsi dan tujuan dari banyak pesta (tradisional) di Indonesia dan juga di negara-negara lain. Namun ia menekankan untuk mempertanyakan lebih lanjut, di balik itu, nilai-nilai kebudayaan mana saja yang tersembunyi di dalam prestise sosial dalam sebuah pesta.

Misalnya dalam kasus pesta Boka Goe yang ditelitinya di Ngadha, Flores Tengah, menunjukkan secara historis fungsi dari pesta tradisional tersebut adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan status dan prestise sosial masyarakat yang mengadakan. Ia menambahkan, yang lebih penting justru prestise itu dibutuhkan untuk memperkuat dan mengukuhkan hak (klaim) suatu klen pada tanah yang langka dan dipersengketakan. Siapa yang sanggup melangsungkan pesta Boka Goe paling lama, dihadiri paling banyak orang, mengeluarkan paling banyak hewan ternak untuk dikorbankan dan menerima sumbangan material paling banyak dari klen lain, akan dianggap menang dan akan mendapatkan hak atas tanah yang lebih besar. 

Dalam kasus ini, fungsi nyatanya adalah mendorong redistribusi tanah berdasarkan prinsip keadilan, sebab klen pemenang secara langsung telah mendapatkan legitimasi dari klen lain (dukungan sosial) dan juga berhak mendapatkan tanah yang lebih luas (berdasar jumlah anggota klen/distribusi penduduk, serta besarnya populasi ternak piaraan/produktivitas). Sedangkan fungsi terselubungnya, yaitu mendorong redistribusi tanah berdasarkan prinsip human ecology. Mengenai prinsip human ecology ini, pesta kompetitif Boka Goe sebenarnya merupakan sebuah evolusi aktivitas manusia untuk mencegah perang tanding yang lebih riskan dan membahayakan jiwa dalam perebutan kuasa tanah yang disinyalir telah hadir sebelumnya.

Daeng juga memunculkan nama-nama peneliti pesta tradisional lain dari luar negeri yang mendukung analisanya mengenai prinsip human ecology ini. Antara lain Roy Rappaport (1968), yang mengkaji Pesta Babi di New Guinea yang dimaksudkan untuk menguji dan membandingkan kekuatan dari dua kelompok yang bersaingan, tanpa memancing konflik terbuka untuk mencapai distribusi yang sebaik-baiknya dari sumber daya yang ada pada semua orang yang terlibat di dalam sistem tersebut.

Terlepas bahwa kasus yang saya sebutkan di atas merupakan kajian pesta tradisional yang hampir punah, sangat menarik untuk melihat pesta atau perayaan dari sudut pandang lain seperti yang dilakukan oleh Daeng atau Rappaport terdahulu. Nilai-nilai kebudayaan apa yang terselubung dalam persaingan prestise sosial dalam sebuah pesta? Bagaimana kita melihat spirit dari sebuah perayaan kaitannya dengan prinsip human ecology yang lebih kontekstual di jaman sekarang, tentang pesta atau festival yang  barangkali dapat menjadi cara yang lebih menyenangkan untuk redistribusi material dan sumber daya tanpa memancing konflik terbuka?

Sebagai penutup, saya ingin kembalikan mata dan pikiran kepada Anda untuk kembali melihat karya-karya Valentino secara lebih mendalam. Apa yang Anda pribadi pikirkan, emosi apa yang Anda rasakan, dan memori-memori apa yang Anda ingat ketika ketika melihat figur-figur dalam lukisannya sedang berpesta dan merayakan momen-momen penting kehidupan?

Dan untuk Valentino: Selamat berpesta!

--
*Ditulis untuk katalog pameran tunggal karya Valentino Febri "Fete" di I AM (Independent Art-space & Management) 3 - 28 Juni 2015.

Referensi:
- Daeng, Drs., HJ., “Pesta, Persaingan dan Konsep Harga Diri pada Beberapa Kelompok Etnis di Flores”, dalam Michael R. Dove (ed.), Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi, Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985. Hal. 287.
- Kodiran, Drs., MA, “Kebudayaan Jawa”, dalam Koentjaraningrat, Prof., Dr., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Djambatan, 2002 (cetakan ke-19). Hal. 329.

Jan 1, 2015

Lelaki Berambut Sebahu Itu


Aku mencoba untuk menghilangkan penat. Berkumpul dengan beberapa teman wanitaku. Kami menerjang gerimis malam ini, mencari celah dalam padatnya lelintas mesin yang menderu. Tak berapa lama kami tiba di sebuah pendopo wangi yang temaram. Karta Pustaka orang menyebutnya. Bercahaya warna kuning dengan lantai mengkilap keemasan. Beberapa lelaki tua mempersilahkan untuk masuk dan duduk di barisan kursi terdepan. Sesaat kami terhenyak ketika melihat para tamu membawa kartu undangan. Manis. Kami tamu yang tak diundang. Kadang kami merasa harus senantiasa merasa lepas dengan keadaan seperti ini. Aku sendiri mencoba untuk tetap tenang. Luapan kebingungan padam seketika tatkala kami melihat guru tari kami menyambut tamu yang lain. Kami serentak berteriak. Tidak keras namun cukup untuk membuat beberapa tamu undangan menoleh pada kami. Apapunlah itu. Yang jelas, malam ini kami ingin memanjakan diri dengan melihat tontonan budaya yang digarap secara modern. 

Aku merasa gelisah. Tak terbiasa dengan para orang tua yang berceloteh. Namun mataku berkeliling dan menemukan dia di sudut sana, di sudut mana. Ah! Aku tak hapal arah mata angin. Dia. Lelaki. Dia yang berambut sebahu terurai. Aku menatap tak henti. Mengikuti ke arah mana dia berpindah. Dia telah mengingatkan aku pada seseorang. Seorang dari masa lalu. 

Beberapa penabuh mulai memasuki pendapa, memainkan gending yang lembut dan mengagumkan. Yah, sangat mengagumkan. Empat wanita datang dengan langkah gemulai, anggun, menebar kekaguman. Membuatku jatuh cinta. Aku merasa malu dengan diriku yang datang dengan baju seadanya. Sejenak aku melupakan dia yang berambut sebahu. Aku melupakannya. Sejenak. Aku benar-benar menikmati tarian serimpi nan cantik ini. Aku selalu memimpikan bahwa kelak aku bisa seperti mereka. Berpentas di atas pendopo licin dengan puluhan mata memandang. Mengagumi keluwesanku. Ahh... hanya sebuah impian. Impian seorang penari amatir. Karena aku juga menari, satu jenis tarian yang cukup istimewa bagiku. Seperti halnya petikan namaku. Sari Kusuma tajuknya. 

Cukup lama aku menikmati malam ini, tentunya sambil melihat arloji. Aku tak mau malam ini kacau ketika aku kembali ke asrama dengan gerbang yang sudah terkunci rapat. Dia yang berambut sebahu juga semakin sibuk. Dengan pekerjaanya. Merangkai cahaya. Walau dia telah menjadi cahaya di benakku. Sayang kami tak sempat bertatap mata lebih lama. Kuharap dia ingat padaku. Wajahku. Namun dia punya sebuah tanggung jawab malam ini. Dan aku punya hak malam ini. Menikmati karya seni. 

Aku, mengingat masa lalu. Malam-malam yang lalu. Seperti malam ini.

Jogja, 30 Des 2006

Malioboro di Bawah Purnama


Full Moon Malioboro ke empat,
Demikian yang terbaca dalam brosur fotokopian yang senantiasa kami pegang selama perjalanan menuju Malioboro.

Sapi berwarna putih teronggok di antara jalan yang menghubungkan Sarkem dan Malioboro. Tulisan yang sama dalam brosur berbaris di badannya. Dan beberapa orang asik mengobrol di samping sang sapi.

Melenggang di wilayah Malioboro. Pukul 11 malam tepatnya. Kanan kiri jalan telah sepi, hening. Kami mencari sesuatu yang meriah malam ini. Tak satu jua keramaian menarik pandangan, namun ketika melewati salah satu toko sandal bermerek yang telah tertutup rolling doornya, kami melihat beberapa orang menyusun alat musik. Jimbe, jimbe, jimbe, dan drum. Sebagian membawa harmonika dan terumpet. Ada juga yang membawa seruling. Mereka berpenampilan apa adanya. Ada yang tak berbaju. Bagaikan gembel yang akan naik ke panggung.

Sapi putih pun datang diiringi orang-orang bergenderang. Bukan perang. Hanya berdendang. Berhenti di depan para pemusik. Orang-orang diam. Hanya bergenderang. Lelaki putih muncul dari punggung sapi. Keluar dari tubuh sapi tersebut. Perlahan. Bergeliat. Turun dan bergerak. Genderang masih ditabuh. Lelaki putih menari, berjoged indah. Berpantomim.

Beberapa waktu telah berlalu. Orang-orang muda berdatangan. Seniman. Wartawan. Birokrat. Dan mahasiswa biasa seperti kami. Satu demi persatu beradu. Sesuai nafsu mereka. Nafsu seni yang membara. Diiringi irama jalanan dan tetes peluh kecut mereka. Performa yang sungguh hebat. Amatir maupun pro, tak usah saling menilai. Nikmati sajalah! Art perform, musik, puisi. Saling bersahut-sahutan diantara asap rokok, kopi dan botol-botol bir.

Mulai menikmati malam. Di awal maret. Dengan bulan purnama menggantung di sudut timur laut. Kami berselimut awan mendung. Tidak hujan. Kawan seperjalanan bahagia. Aku juga. Seniman juga. Dan mungkin kau juga.

Jogja, 2007