Malioboro di Bawah Purnama

Full Moon Malioboro ke empat,
Demikian yang terbaca dalam brosur fotokopian yang senantiasa kami pegang selama perjalanan menuju Malioboro.

Sapi berwarna putih teronggok di antara jalan yang menghubungkan Sarkem dan Malioboro. Tulisan yang sama dalam brosur berbaris di badannya. Dan beberapa orang asik mengobrol di samping sang sapi.

Melenggang di wilayah Malioboro. Pukul 11 malam tepatnya. Kanan kiri jalan telah sepi, hening. Kami mencari sesuatu yang meriah malam ini. Tak satu jua keramaian menarik pandangan, namun ketika melewati salah satu toko sandal bermerek yang telah tertutup rolling doornya, kami melihat beberapa orang menyusun alat musik. Jimbe, jimbe, jimbe, dan drum. Sebagian membawa harmonika dan terumpet. Ada juga yang membawa seruling. Mereka berpenampilan apa adanya. Ada yang tak berbaju. Bagaikan gembel yang akan naik ke panggung.


Sapi putih pun datang diiringi orang-orang bergenderang. Bukan perang. Hanya berdendang. Berhenti di depan para pemusik. Orang-orang diam. Hanya bergenderang. Lelaki putih muncul dari punggung sapi. Keluar dari tubuh sapi tersebut. Perlahan. Bergeliat. Turun dan bergerak. Genderang masih ditabuh. Lelaki putih menari, berjoged indah. Berpantomim.

Beberapa waktu telah berlalu. Orang-orang muda berdatangan. Seniman. Wartawan. Birokrat. Dan mahasiswa biasa seperti kami. Satu demi persatu beradu. Sesuai nafsu mereka. Nafsu seni yang membara. Diiringi irama jalanan dan tetes peluh kecut mereka. Performa yang sungguh hebat. Amatir maupun pro, tak usah saling menilai. Nikmati sajalah! Art perform, musik, puisi. Saling bersahut-sahutan diantara asap rokok, kopi dan botol-botol bir.

Mulai menikmati malam. Di awal maret. Dengan bulan purnama menggantung di sudut timur laut. Kami berselimut awan mendung. Tidak hujan. Kawan seperjalanan bahagia. Aku juga. Seniman juga. Dan mungkin kau juga.

Jogja, 2007

Sita Sarit • 2018-2019