Simbolisasi Sistem Keyakinan a la Perupa


Dua seniman residensi HotWave #2 di Cemeti kali ini, sama-sama tertarik pada persepsi simbolisasi sistem keyakinan di masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah simbol burung Garuda dalam lambang negara yang mencakup 5 prinsip dasar Pancasila yang dibawakan secara satir oleh Bowo, serta simbol Kristus dalam agama Katolik yang diusung secara universal oleh David. Selama periode residensinya, Bowo menajamkan gagasannya pada lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila. Ketertarikan terhadap simbol negara ini sudah lama muncul ketika Ia bersama rekannya dalam kelompok Bocor Alus membuat karya performance "Melepas Burung Gapura" pada tahun 2003 dan 2006. Kini Bowo mencoba menanyakan kembali burung garuda yang diagungkan sebagai simbol tanah airnya dengan menghadirkan beragam karya tiga dimensi yang bernada satir. Dalam beberapa karya, Bowo membawakan ulang simbol-simbol yang ada dalam tubuh Garuda Pancasila tersebut dan mengaitkannya dengan situasi masa kini. 

Hampir sama dengan konsep berkarya sebelumnya, dalam periode residensi ini David masih mengusung Kristus, keyakinan dalam agama Katolik, dan simbolisme salib sebagai tema besarnya. David melakukan studi literer serta diskusi tentang kepercayaan Katolik di dalam masyarakat Indonesia pada umumnya. Melihat konsep ketuhanan dalam agama Katolik di Indonesia secara lebih umum, membuat karya-karya David kini mengarah kepada gambaran luas tentang Kristus dan agama Katolik daripada melakukan kritik subtil yang biasa dia ajukan. Gabungan dari proyek berkarya David dan Bowo ini mengingatkan kita kepada hakikat seorang seniman yang berangkat dari simbol untuk menanyakan kembali apa yang sudah menjadi konsepsi bersama dalam kehidupan bermasyarakat, seperti yang kita lihat dalam presentasi mereka, yakni sistem keyakinan.

David Pedraza lahir di Madrid pada 1976, menyelesaikan studi jurusan desain grafis dan illustrasi di "Escuela de Artes Aplicadas y Oficios", Madrid, Spanyol, dan melanjutkan studi seni rupa di K.A.B.K. Den Haag, Belanda. Hijrah dari Spanyol ke Belanda, David membawa analisis dan refleksi yang mendalam atas pengalaman masa lalunya, yaitu keluarga, agama Katolik, serta gaya hidup semasa remaja dan meleburkannya dengan paradigma baru yang dia lihat dan hadapi di masa sekarang dalam karya lukisnya. Kali ini David melakukan bermacam eksplorasi medium yang belum pernah Ia coba sebelumnya. Ia menanyakan tipisnya perbedaan antara obyek umum yang dapat ditemui di keseharian dan obyek seni lewat karya site-specific-nya yang menggabungkan seni lukis, seni patung, dan arsitektur. Ketika masa residensi David juga menjadi dosen tamu dalam kuliah umum bagi mahasiswa jurusan seni murni ISI Yogyakarta, bekerjasama dengan fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Wibowo Adi Utama lahir di Pemalang pada 1980, menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, minat utama Seni Lukis. Berangkat dari seni lukis dan performance yang ditekuninya semenjak masa kuliah, kini Bowo mengalami transformasi dalam penciptaan karya. Dalam residensi ini Bowo memperkuat karya-karyanya dengan menampilkan data yang ditemukannya ketika riset dalam bentuk instalasi video dan audio. Selain itu Bowo juga melalukan dialog dengan membawa salah satu karya Bowo berujud pasung bertuliskan kalimat 'Bhinneka Tunggal Ika', ke beberapa lokasi di kota Yogyakarta untuk melibatkan partisipasi publik demi proses berkarya dan risetnya.

*Tulisan adalah sebagian dari Rilis Pers Pameran Hotwave #2, dipublikasikan oleh Rumah Seni Cemeti, 23 Juni 2011

Sita Sarit • 2018-2019