Di Balik Bendungan Wonorejo

Di tahun 1982 dimulai pembangunan Bendungan Wonorejo untuk mengendalikan banjir dan pembangkit PLTA untuk obyek wisata serta memasok air minum bagi kepentingan kota industri Surabaya. Demi pembangunan dan pembebasan tanah, 520 hektar tanah persawahan, pemukiman, sekolah dan pasar tergusur, warga dipindahkan dengan transmigrasi lokal, antar pulau atau pindah ke keluarga serta hidup di kawasan sabuk hijau (green belt). Mayoritas penduduk petani yang mendapat ganti rugi tanah mulai membangun rumah tembok berlantai porselen, membeli televisi dan sepeda motor. Mereka yang mendapat banyak ganti rugi membuka lahan kerja baru, sedang yang mendapat sedikit ganti rugi beralih profesi menjadi buruh industri, penjaja makanan, sopir, pembantu rumah tangga atau menjadi buruh sadap pinus. 

Banyak pula warga yang masih bertani, mengarap lahan kering milik Perhutani di perbukitan di atas bendungan dengan tanaman sekali panen dalam setahun. Kini ketika uang ganti rugi tersebut telah menipis, dan hasil panen yang dikerjakan tidak mencukupi biaya hidup warga, banyak keluarga yang kemudian tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Anak-anak mulai retak masa depannya di tengah pembangunan bendungan. Realitas anak-anak bendungan ini menjadi dasar proses berkarya Moelyono bersama warga petani di desa Wonorejo dengan mengeksplorasi kegiatan bertani, berkesenian dan kegiatan rumah tangga. Dengan berbagai medium Moelyono mencoba untuk membuat refleksi dan lagi lagi melakukan penyadaran atas sudut pandang baru bagi generasi muda di area bendungan.

Dalam pameran tunggal bertajuk Retak Wajah Anak-anak Bendungan ini, Moelyono tidak hanya menampilkan sejumlah lukisan dan instalasi, namun juga menunjukkan data-data geografis wilayah Wonorejo dan dokumentasi proses berkarya Moelyono bersama warga dan anak-anak. Selain itu Moelyono juga membawa beberapa karya lukis di atas kaca garapan seorang petani di desa Wonorejo, pak Katar. Moelyono seperti membawa pengunjung ke dalam lokasi penelitiannya saat masih dalam proses pembangunan, dengan tali-tali menjuntai berpendulum dan konstruksi besi yang belum selesai digarap. Marka-marka pengukur elevasi air yang ditempelkan, Moelyono hendak menyatakan statement pentingnya menimbang kembali pemaknaan dan pemilihan media seperti halnya instalsi secara taktis dan efisien. 


Lima buah rak-rak besi botol tabung reaksi yang menampung elemen-elemen utama pembentuk sektor pertanian; tanah, air, bibit, jamu, dan darah (petani) hendak mensiasati keringnya idiom atas terkikis habisnya hak dan air mata para petani. Dalam salah satu rak yang diberi judul “Titip Tanah Sawah”, Moelyono menanam serupa fosil rahang dan gigi binatang dalam tanah yang mengering, di bawahnya, terdapat plat bertuliskan 'Land of Ricefield' yang menahan tabung reaksi dengan spesimen tanah di dalamnya, sebuah ungkapan yang mengingatkan bahwa lahan pertanian kini telah menyempit, para petani kini hanya mempunyai harapan untuk menitipkan spesimen tanah-tanahnya kepada generasi mendatang. De-materialisasi pada media instalasi Moelyono ini adalah inovasi idiom baru yang amat sangat jenaka sekaligus efisien tragis habis, menjadi counter pemikiran menarik atas merebaknya materialisasi hedonistic karya-karya perupa generasi pasar.

Selain instalasi de-materialistik dengan tabung-tabung reaksi jati diri petani dan benang-benang marka elevasi air, dua belas (12) karya lukis akrilik di atas kanvas berukuran besar dan kecil menambah dimensi sosial baru, yang coba dibangun oleh Moelyono. Lukisan-lukisan tersebut bergambarkan wajah anak-anak dan warga desa yang berlapiskan lumpur mengering yang telah retak. Di samping lukisan, berderet peta topografi wilayah Wonorejo disertai duplikat dari perencanaan dan berlembar-lembar kliping tentang pembangunan bendungan Wonorejo disajikan oleh Moelyono. Dokumen-dokumen tersebut kemudian dijejerkan dengan foto-foto dokumentasi proses kerja Moelyono bersama warga dan anak-anak yang bermukim di wilayah sekitar Bendungan Wonorejo. Data dan dokumentasi empiris ini tentunya menambah kekuatan karya-karya Moelyono pada pameran tunggalnya kali ini.
__
Moelyono (lahir di Tulungagung, 1957) belajar di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Semenjak tahun 90-an Moelyono telah aktif bekerja untuk lembaga swadaya masyarakat disamping terus berkarya sebagai perupa. Ia menggunakan seni sebagai medium advokasi untuk penyadaran akan berbagai problema spesifik di masyarakat, sebagian besar dilakukannya dengan penduduk desa dan anak-anak. Di sisi lain, pengalaman di lapangan serta realitas kehidupan yang dihadapinya memunculkan banyak inspirasi juga eksplorasi di dalam karyanya sendiri. Moelyono mempertanyakan fungsi-fungsi seni dan mengkomunikasikannya kepada audiens seni/urban yang berbeda. Interaksi yang menarik terjadi antara berbagai komunitas yang berbeda seperti dalam pameran tunggalnya di Rumah Seni Cemeti pada tahun 2004 lalu.


*Tulisan adalah sebagian dari Rilis Pers Pameran "Retak Wajah Anak-anak Bendungan", dipublikasikan oleh Rumah Seni Cemeti, 5 Agustus 2011

Sita Sarit • 2018-2019