Menggagas Artefak Palsu dan Figur-figur Fiksi


Pada awal masa tinggalnya dalam residensi, Charlotte Schleiffert dan M.R. Adytama Pranada atau Charda diberi kebebasan untuk melihat kota Yogyakarta seluas-luasnya untuk mencari inspirasi berkarya dan menggali informasi tentang topik yang mereka minati. Charlotte mengumpulkan beberapa buku, laman web, novel serta berlangganan harian umum berbahasa Inggris untuk mengenal lebih dekat kebudayaan, sejarah dan situasi terkini Indonesia secara umum. Dalam proses berkarya sebelumnya, ia memang sering menggunakan metode penelitian media untuk menelusuri narasi-narasi yang dianggapnya penting.


Begitu pula dengan Charda, ia mulai dengan menguliti cerita-cerita mengenai memori dan sejarah baik tentang kota Yogyakarta maupun sejarah personal dari orang-orang di sekitarnya selama masa awal residensi hingga lebih jauh dengan mengumpulkan arsip dan sedapat mungkin menemui artefak asli dari arsip-arsip tersebut. Memang, Charda memiliki ketertarikan terhadap pembahasan memori dan sejarah sedari awal. Ia memulai proses residensi dengan ide awal tentang memori dan sejarah keluarganya yang terkait dengan Kesultanan Palembang-Darussalam dan artefak keluarga yang secara misterius tersimpan di Belanda—juga tentang industri gula di Jawa sejak masa kolonialisasi Belanda. Akhirnya, ia memutuskan untuk meneliti sejarah dan memori masyarakat lokal Yogya yang memiliki kaitan yang kuat terhadap sejarah Indonesia, yaitu Kesultanan Yogyakarta.

Pada tengah residensinya, Charlotte dan Charda juga menginisiasi dua program terbuka untuk publik di mana Charlotte mengundang 25 anak berusia enam hingga delapan tahun untuk bereksperimen menggambar figur-figur imajinasi berukuran besar dengan gabungan beragam medium seperti karya-karyanya. Sedangkan Charda membuat sebuah workshop Fotogram Memorabilia untuk mahasiswa. Dalam workshop selama dua hari ini, para peserta diajak untuk mengingat dan mengumpulkan kembali memorabilia sejarah dan ingatan personal mereka dan mendokumentasikannya melalui teknik Fotogram; teknik di mana proses reproduksi citra dilakukan secara langsung di atas kertas foto tanpa menggunakan kamera dalam kamar gelap.


Selama berproses, Charlotte menyelesaikan 13 karya di mana 5 karyanya berupa drawing figur berukuran besar dengan memakai berbagai media di atas kertas, satu karya lukis di atas kanvas dan sisanya merupakan drawing-drawing berukuran kecil serta kolase dan instalasi dari berbagai arsip dan stiker dan mainan untuk anak perempuan. Satu-satunya karya di atas kanvas yang ia buat, terinspirasi oleh Pangeran dari Madura di zaman kolonial di Jawa. Dalam karya ini Charlotte berbicara tentang pengaruh kekuasaan dalam hubungan antar manusia, ide yang sering digunakan dalam karyanya. Penelitian untuk karya pentingnya ini, telah membangkitkan rasa ingin tahunya tentang sejarah masa lalu negerinya sendiri, negeri Belanda, yang mana baru-baru ini ia ketahui mempunyai hubungan sejarah yang erat dengan Indonesia.


Di salah satu karya drawing besarnya, Charlotte menampilkan figur wanita berjilbab yang bergaya dengan pakaian bermotif macan tutul. Ketika ia tiba dan melihat banyak wanita menggunakan jilbab, ia lalu melakukan pembacaan visual terhadap para fashionista muslim lokal dan memulai karya ini. Di karya lain Charlotte memasukkan topeng-topeng tradisional dalam figur gambarannya sebagai kelanjutan dari karya-karyanya yang lain jauh sebelum residensi. Dengan figur-figur yang mengkombinasikan topeng tersebut bersama setelan adibusana dan gaya dari majalah, ia menyandingkan dunia barat yang dibawanya dengan budaya timur yang menjadi minatnya. Pada latar belakang tiap figurnya ia menambahkan pandangannya terhadap isu-isu gender, protes warga, perang keagamaan, serta perlakuan salah terhadap binatang, yang baru-baru ini seringkali terbaca dalam surat kabar.


Perhatiannya Charlotte yang luas dari topeng tradisional hingga jilbab street-style dan dari sejarah kolonial hingga isu-isu politik dan sosial masa kini dan bahkan mainan Kitsch untuk anak-anak perempuan telah menghantarnya kepada gambar-gambar yang kontras namun saling berkaitan, sebuah perspektif yang unik untuk melihat kehidupan sekitar.


Sedangkan minat Charda bermula ketika berinteraksi dengan memori dan sejarah setempat yang menariknya kepada sejarah perjanjian dan kebijakan politik Sultan pada masa kolonialisasi Belanda. Dalam risetnya ia menemukan suatu permasalahan mendasar mengenai artefak-artefak sejarah yang sebagian besar berada di luar Indonesia dan cukup sulit untuk diakses. Baginya, artefak sejarah tersebut bukan hanya benda-benda yang memiliki nilai ekonomis koleksi tinggi, tetapi juga mempunyai sisi historis dan memori yang tak ternilai, yang menyangkut identitas kolektif dan pandangan publik saat ini mengenai urgensi artefak sejarah. Penelitian ini membuatnya berhubungan dengan The British Museum di London, Tropen Museum di Belanda, hingga para pelaku ‘pemburu harta karun’. Dalam prosesnya, ia seringkali harus terjun langsung dalam dunia arkeologi, dibantu oleh rekan-rekan arkeologi universitas terkemuka di Yogyakarta.


Hasil penelitian Charda membuahkan pemikiran-pemikiran yang dipresentasikannya dalam koleksi 10 karya mengenai artefak sejarah berjudul Fictional Truth Collection. Dalam ruang pamer yang dijejali dengan koleksi 'artefak'-nya itu, kita seperti dibawa pada sebuah ekskavasi arkeologi imajiner. Karya-karya Charda, layaknya artefak koleksi museum, masing-masing ditandai dengan kode-kode kombinasi angka dan huruf serta tahun penemuan/penggalian. Medium yang digunakan Charda pun sangat beragam dari benda yang tidak asing dalam dunia arkeologi, permuseuman bahkan pencurian artefak seperti sisa peninggalan bersejarah, klise foto artefak, pasir, wearpack, kotak-kotak kayu kontainer hingga video dan sensor bau-bauan.


___

M.R. Adytama P. (Charda) (lahir 1987) menyelesaikan studi Seni Grafis di Institut Teknologi Bandung. Ia telah mengikuti berbagai pameran kelompok di Indonesia, Singapura, Swedia dan Belanda, dan pada 2011 menerima penghargaan sebagai Pemenang pertama Soemardja Award di Bandung serta Video terbaik di OK Video 'Flesh' di Jakarta. Charda tinggal dan bekerja di Bandung dan Jakarta.

Charlotte Schleiffert (lahir 1967) tinggal dan bekerja di Rotterdam dan Xiamen (Cina). Ia mendapatkan pendidikan seni dari Koninklijke Academie voor Kunst en Vormgeving di Hertogenbosch dan Ateliers ’63 di Haarlem, Belanda. Ia telah berpameran tunggal sejak 1994 dan juga mengikuti banyak pameran bersama dan residensi melintasi Eropa dan Asia Pasifik. Pada 1999 Charlotte menerima penghargaan Prix de Rome sebagai perupa. (http://www.charlotteschleiffert.com/)


*Tulisan adalah sebagian dari Rilis Pers Pameran Hotwave #5, dipublikasikan oleh Rumah Seni Cemeti, 22 Juni 2013


Sita Sarit • 2018-2019