Desa tanpa Pahlawan

Awan bergumpal-gumpal di atas pohon kenari. Warnanya abu-abu gelap dan tampak berat. Semut-semut pada berlarian dari balik akar-akar kekar pohon, beriring-iringan menyusuri rerumputan menuju anak tangga sekolah. Bangunan terdekat dari pohon kenari. Anak-anak di dalam kelas tiba-tiba terlihat ceria dan mulai berteriak-teriak sembari memandangi balik jendela. Ingin segera pulang dan berlarian di bawah hujan. Semua anak, kecuali Polan.

Polan masih cemberut. Semenjak pagi hari ini Polan cemberut. Sambil menggaruk-garuk tanah dan memandangi hewan-hewan kecil yang berusaha keluar dari tanah, Polan menggerutu sendirian. Sesekali ia melirik ruang-ruang kelas sekolahnya yang tampak dari pohon-pohon kelapa yang menutupi sosok tubuhnya. Ia tahu akan turun hujan dalam waktu yang tidak lama, tapi ia juga tahu kalau ia tidak juga bisa pulang ke rumah Paman sebelum jam sekolah berakhir.


Hari ini adalah hari ke-tiga dalam satu minggu Polan membolos dari sekolah. Sejauh ini Paman belum tahu meski beberapa guru sudah memperingatkan Polan di kelas. 

Makhluk-makhluk Air

Dalam hati siapa tahu, dalam air siapa duga?
Pagi ini tidak seperti biasanya. Aku bangun pagi, meskipun tidak sepagi orang-orang yang terbangun karena adzan shubuh dan bangkit untuk menghadap tuhan mereka. Pukul 6:30 sudah cukup pagi bagiku.

Berdiri dari ranjang, segera menuju ke kamar mandi, mencuci muka dan menyikat gigiku yang penuh sisa makanan yang menempel tadi malam, kadang-kadang ketika asam lambung naik aku terdengar seperti ibu hamil muda yang kesakitan karena morning-sicknya. Yang kadang-kadang seperti sekarang ini: aku tidak suka.

Down to the Old Rail Alley (Tersesat)


Waktu itu setelah hujan deras. Kuturuni jalan yang landai hingga ke pertigaan. Air menggenang setinggi lututku. Basah, badan dan barang bawaanku. Kalau air lebih tinggi lagi, mungkin aku akan berenang, pikirku. Tapi tidak dengan tas berat berisi pakaian, air, paspor, dan uang ini. Aku sadar sedang tersesat di negeri orang!


Di pertigaan ini jalan yang kulalui mencabang. Aku tidak sabar untuk memilih, jalan mana yang akan kulalui. Aku bingung. Sedangkan air mengalir ke jalan yang lebih rendah. Seandainya aku bisa mengalir saja seperti air genangan itu.


Sayup kudengar suara wanita. Wanita-wanita. Tidak, wanita-wanita dan perempuan. Kusambangi mereka. Kaki-kaki mereka basah, tangan memegang erat sepatu dan bungkusan makanan dan kitab. Bukan Alkitab atau Alquran. Seperti pulang dari pengajian atau arisan. Mata mereka memandangiku. Hangat. Mereka tahu aku tersesat.


Monolog Tembakau

La Perte, digital drawing, 2007
Beberapa malam ini kulakukan satu kebiasaan baru. Kutempelkan ujung rokok menyala merah ke selembar tisu yang terbuka lebar di atas meja. koridor depan kamar asrama. Belum ada satu kalipun kunyalakan sebatang rokok di asrama secara terang-terangan seperti ini. pernah sekali kulakukan di atap tanpa sepengetahuan teman-teman. Tapi sekarang ini menjadi candu bagiku untuk menghisap dan menghembus CO2 dari nyala daun tembakau terbakar ... bahkan di hadapan warga baru sekalipun. Sering sebatang dalam semalam, atau dua ketika sedang suntuk, demam atau terobsesi. 


Sita Sarit • 2018-2019