IDRF Hari kedua: Tumpang Tindih Sejarah Seni Rupa dan Resepsi Perkotaan Makassar

image: bagian dari poster idrf 2018
Hari kedua IDRF masih sama dengan hari sebelumnya yang dibuka dengan sapaan para pendiri dan kurator IDRF tahun ini. Lanjut setelahnya, seorang aktor perempuan yang pada hari sebelumnya membacakan naskah kembali ke panggung, menjelaskan sedikit naskah dan para pembaca layaknya penyiar televisi pada acara-acara hiburan rakyat. Berusaha menghibur dengan guyonan-guyonan yang agak dipaksakan. Padahal mungkin tidak semua orang butuh dihibur dengan guyonan malam itu. Meskipun saya salah, karena ternyata dua naskah yang kemudian akan dibacakan oleh MES 56 dan Jaring Project sangat jenaka dan berhasil mengundang tawa dari para penonton hingga larut malam. 

Hari Pertama IDRF 2018: tentang Imaji Masa Depan dan Masa Kini yang Absurd

image: bagian dari poster idrf 2018
Para penonton terlihat memadati teras IFI Yogyakarta dalam sebuah antrian yang memanjang. Ternyata registrasi sudah dimulai. Aku ikut dalam antrian itu dan dengan sabar seperti calon penonton lain, menunggu untuk memasukkan nama dan identitas masing-masing dalam sebuah laptop berisi aplikasi registrasi online. Satu persatu penonton yang telah melakukan registrasi masuk ke ruangan yang sudah hampir penuh. Setelah menyapa kawan-kawan, aku mencari satu ruang kosong di tepi kanan dekat jalur naik ke belakang, dan menempati ruang kosong itu. 

Tubuh Dangdut Ayu Permata

image: instagram ayupermatadanceco
Malam itu kami bermotor dari rumah ke Kotagede, setelah mengecek titik di peta Google, kami masuk ke Gang Soka sesuai arahan Ayu Permata. Lima menit masuk ke dalam gang, kami berhenti di lokasi setelah melihat beberapa hotel atau restoran mewah di dalam gang yang terbilang sangat sempit. Di kanan jalan, terlihat rumah lawas dengan teras yang didekor seperti warung kopi kecil dengan botol-botol kaca berisi biji kopi. Parkiran cukup penuh dengan sepeda motor beberapa tamu lain. Itulah Sakatoya, komunitas yang meninggali sementara sebuah rumah lawas di Kota Gede. 

Globalisasi Budaya Pada Seni Rupa Indonesia

Untuk dapat memahami pergeseran wacana dan material seni rupa di Indonesia, penulis akan menggunakan sudut pandang globalisasi budaya. Menurut Dianne Crane, globalisasi budaya merujuk pada  transmisi dan difusi yang melintasi perbatasan nasional dari berbagai media dan seni, di mana globalisasi budaya dimengerti sebagai fenomena yang kompleks dan beragam tentang budaya global yang bersal dari negara serta wilayah yang berbeda.[2] Crane pun mencoba untuk mengkaji ulang model teoritosasi yang telah sering digunakan untuk menjelaskan mengenai globalisasi. Ia juga mengajukan model yang ia formulasikan sendiri dan mencoba untuk mendiskusikan model-model tersebut, dihubungkan dengan literatur terkini mengenai globalisasi.

Keempat model teoritisasi yang ditawarkan oleh Crane adalah: (1) Imperalisme Kebudayaan, (2) Jaringan/Arus Kebudayaan, (3) Teori Resepsi, dan (4) Strategi Kebijakan Kebudayaan. Model teoritisasi globalisasi pertama yang dimunculkan kembali oleh Crane adalah Teori Imperalisme Budaya, yang muncul di masa 1960-an yang merupakan perpanjangan aliran Marxisme sebagai kritik terhadap budaya kapitalis yang sarat dengan konsumerisme dan komunikasi massa. Teori imperialisme budaya bisa didefinisikan sebagai bentuk dominasi budaya oleh negara yang lebih kuat terhadap negara yang lebih lemah di mana prosesnya berasal dari pusat menuju ke pinggiran (center-periphery). Aktor yang paling berpengaruh dalam model ini yaitu konglomerat media global dan model ini memberikan konsekuensi terdekat yakni homogenisasi budaya karena besarnya dominasi budaya dari aktor yang lebih kuat.

Green Map dan Kosmopolitanisme Global


Green Map, salah satu NGO bertaraf internasional pada bulan Juni tahun ini mengadakan pertemuan di Taiwan. Pertemuan tersebut digunakan untuk membahas berbagai proyek pemetaan berbasis ekologi yang telah mereka geluti selama sekitar lima belas tahun. Sebagai NGO non-profit, Green Map mencoba untuk bergerak di bidang lingkungan dengan menyediakan sistem pemetaan yang bersifat terbuka bagi siapa saja. Berpusat di New York, Green Map telah mempublikasikan 280 peta dari berbagai proyek di 51 negara. (Berdasarkan data bulan Maret 2007, Green Map telah melaksanakan 383 proyek di 51 negara. Hasil dari proyek tersebut sebanyak 189 merupakan peta lipat dan sebanyak 81 merupakan peta dengan publikasi berbasis jaringan internet. Sumber: http://www.greenmap.com/news/nindex.html diakses pada 10 Maret 2007.)


Green Map, laiknya NGO lain merupakan hasil dari produk globalisasi yang saat ini sedang marak diperbincangkan. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, adanya globalisasi menyebabkan manusia lebih mudah dalam mengembangkan berbagai nilai baru dalam masyarakat. Nilai baru tersebut kemudian disebarluaskan dan dimultiplikasikan secara besar-besaran. Kemudian timbul satu pandangan yang dapat merefleksikan pengembangan nilai yang dilakukan oleh produk global tersebut: Kosmopolitanisme.

Mengintip Blogger dan Identitas dari Desain Muka


Blog sudah menjadi kata yang tak asing lagi bagi para pengguna internet, walaupun hanya sekedar pernah mendengar, membuka, membaca, atau bahkan pernah membuat dan memanfaatkan blog. Bila sebelumnya kita pernah mengenal web-page (halaman web), maka blog atau weblog tak lain adalah turunan dari web-page yaitu layanan sub-domain sekaligus posting konten web-page dengan nama pilihan pribadi yang ditempeli dengan embel-embel nama server. Pengelolaan bersifat pribadi dan sesuka hati para pengguna blog. Sebagian besar layanan blog bebas dari biaya alias gratis, tetapi terkadang beberapa server memberikan fitur tambahan dengan insentif biaya tertentu. Blog kemudian menjadi populer dan digunakan sebagai ruang publikasi alternatif di dunia virtual, di samping web-page tentunya. Blogger kemudian menjadi istilah khas untuk menyebut pengguna blog secara umum.

Fenomena blog ini semakin berkembang lantaran biaya yang gratis, mudahnya pembuatan dan penggunaan blog itu sendiri, serta sub-domain atau nama blog yang sudah cukup terkenal dan mudah untuk dihapalkan. Beberapa sever blog yang cukup terkenal antara lain Blogger dan Wordpress saling berkompetisi. Menuai efek perkembangan blog, para penyedia layanan internet berjenis lain kemudian ikut menambahkan fitur blog dalam layanannya, seperti My-Space dari MSN, Geocities, Multiply dan Friendster Blog.

Mem-videokan Cerita Sebuah Kota


“Aku dua puluh tiga tahun di Jogja, baru sekali ini naik andong..." 
Ekspresi gembira sekaligus malu diungkapkan oleh Helianto, sukarelawan Green Map, yang baru pertama kalinya merasakan pengalaman naik andong. Lain halnya dengan yang dituturkan oleh Sang Kusir. Beliau sudah mengalami perjalanan di atas andong selama 35 tahun. Sejak tahun tujuh puluhan saat tarif andong masih seharga Rp 15,00 hingga sekarang ini berangsur naik menjadi Rp 3.000,00. Berbagai perbincangan santai mewarnai perjalanan anak-anak muda siang itu. Andong kemudian meluncur selama kurang lebih setengah jam untuk mencapai Kota Gede.

Itulah sekelumit cerita perjalanan yang terdokumentasikan dalam video berdurasi 21 menit. "Jalur Andong Pasar Gede-Beringharjo", satu dari segenap video pendek hasil proyek Video Report di Kawasan Kota Gede. Proyek ini melengkapi kegiatan workshop pemetaan kawasan yang dilakukan oleh Green Mapper Jogja pada akhir tahun 2005.

Sita Sarit • 2018-2019