Menyusur Karimun Jawa (Part Two)


Di tengah hutan bakau, pesisir Karimun Jawa
Memang kami datang di Karimun Jawa saat cuaca tidak terlalu baik, musim hujan masih belum kelar betul, badai kadang menerjang laut utara jawa. Teman Muhammad bilang saat terbaik ke sana adalah bulan ke delapan dan sembilan, ketika sedang cerah-cerahnya dan debit air hujan masih normal. Namun hari kedua kedatangan kami di bulan April yang kami rencanakan untuk snorkling berjalan cukup lancar, meskipun di tengah laut kami sempat dikejar guyuran hujan dan awan kelabu yang berat. Tapi nahkoda dan kapal nelayan kayu yang membawa kami dan enam orang asing serta pengawal turnya cukup lihai untuk membuat kami bahagia hari itu. Kadang-kadang ombak besar membuat kami kesulitan berenang. Namun dua penyu kecil, dan ratusan ekor ikan warna-warni, beberapa ikan badut, dory dan ikan ekor kuning sudah membuat kami mensyukuri perjalanan di permukaan air dan beberapa pulau tak berpenghuni ini.


Menyusur Karimun Jawa (Part One)

Pelabuhan Karimun Jawa, salah satu gerbang utama eksplorasi utara Jepara
Pantai bukan destinasi favorit saya, tapi birunya air yang bertepian dengan buih-buih sisa ombak selalu bisa membuat saya melamun dan tersenyum sendiri. Saat itu saya menaiki sebuah kapal feri cepat menuju Karimun Jawa, pulau yang sudah lama ingin saya kunjungi. Meskipun jarak tempuh hanya 3 jam, perjalanan dengan Feri itu serasa selamanya buat saya. Saya yang sering mabuk perjalanan terpaksa menahan diri pagi itu, apalagi cuaca laut sedang tidak baik. Ombak sangat tinggi kurasa. 

Di kapal yang terasa diombang-ambing itu, air terlihat seperti mau menghantam sisi kapal satunya yang bisa saya lihat dengan jelas karena saya duduk di buritan kapal, bagian luar. Meskipun suami saya Muhammad sudah mengantri tiket sejak pukul 7 sebelum dermaga Jepara dibuka, nyatanya kami kebagian antrian ke-tiga, di mana pada antrian ke-dua semua tiket untuk duduk di kursi nyaman di area dalam Feri sudah habis. Kami masih bisa naik katanya, dengan membeli seharga tiket normal tetapi harus duduk di buritan kapal, bagian luar. Untungnya di luar sini angin bisa berhembus deras di sela-sela tubuh dan hidung saya. Membebaskan saya dari mabuk, dan memberikan kemungkinan masuk angin yang besar. 

Mudik Pertama: Pati - Juwana (Part Two)

The Smoked Fish

Niat awalku bertandang ke Juwana saat mudik pertama di Pati kali ini sebenarnya sangatlah sederhana. Aku tertarik dengan ikan asap kesukaan, dan karena Juwana terkenal dengan bandengnya, maka asumsiku di sanalah aku akan bertemu dengan penjual ikan bandeng asap. Perasaanku akan bertemu ikan-ikan sangat membuncah, bahkan ketika sebelum mencapai Juwana, kami melintasi seorang laki-laki yang mengayuh sepeda di Jalan raya sambil mengengam seekor ikan segar membuatku tersenyum-senyum sepanjang perjalanan!

Mudik Pertama: Pati - Juwana (Part One)



Mudik pertamaku adalah di tahun ini. Bisa kukatakan keluarga intiku hampir tidak pernah melakukan mudik sepanjang tahun ke belakang. Biasanya rumah orangtuaku yang merupakan warisan dari kakek-nenek papaku dikunjungi oleh hampir semua keluarga besar di Hari lebaran atau sesudahnya. Sedang rumah orang tua mamaku yang berada di kota yang sama juga berlaku sama. 

Paling jauh, yang kami lakukan adalah berkunjung ke kota tetangga, sekitar satu jam perjalanan untuk berziarah dan bertemu saudara jauh, itupun dapat dilakukan dalam satu siang. Lalu libur panjang untuk apa? Bagi kami, libur panjang berarti liburan! Ya, piknik ke kota atau pulau lain dengan satu mobil, membawa bekal makanan secukupnya dan menginap beberapa malam untuk mencoba wahana wisata. Meskipun di kota tujuan sempat bertemu saudara jauh, itu hanya sisi kecil dari piknik keluarga. 

Menulis Buku Harian


Membaca mungkin bukan keahlianku. Aku tiada pernah bisa mengingat kapan pertama kali belajar membaca. Yang aku ingat mamaku sering berkata kalau pada saat mau masuk sekolah dasar, aku sudah senang membaca koran. Apakah mungkin yang ia maksud dengan membaca adalah ‘melihat-lihat’?

Aku juga tak ingat kapan aku bisa menulis. Yang aku ingat saat itu usiaku delapan tahun dan papaku memberikan aku dan kedua kakakku masing-masing sebuah buku diary mini. Diberikan ketika kami hendak berlibur sekeluarga ke Bandung. Katanya, kami boleh menulis memori liburan kami di situ. Meski pada akhirnya bukuku itu hanya terisi separuh dari halaman pertama. 

Menulis dan membaca menjadi momok dalam hariku. Aku cuma ingat kesukaanku melihat-lihat majalah trubus dan nova, saat-saat kumpulan cerpen anak dan komik jadi penenang selepas pulang sekolah, dan ketika menulis puisi dan cerita misteri serta roman menjadi hobi ringan. Hingga memasuki saat kuliah, menulis jadi kewajiban, kompetisi review dan esai menjadi penentu kelulusan mata kuliah, nilai atas tulisan menjadi ketakutan terbesar. Momok itu dimulai.

Sarimin Masih Hidup!

'Sarimin' di Plengkung Gading pada suatu sore yang terik-menyengat.
'Sarimin', panggilan populer terhadap monyet yang dipekerjakan dalam atraksi Topeng Monyet ini ternyata masih dapat ditemukan di Plengkung Gading, pada sore yang kadang-kadang. Ada dualisme dalam pikiran saya ketika melihatnya sore tadi, antara kasihan dan terhibur. 

Banyak berita tidak sedap dari para pencinta binatang mengenai atraksi ini: bahwa si pawang tidak perduli pada kesehatan sang monyet, bahwa si monyet harus dipaksa dan kadang disiksa untuk dapat patuh pada majikannya dan menghibur sang penonton, bahwa sang monyet diperbudak, bahwa sang monyet diburu dari habitat aslinya dan dirampas hak hidup bebasnya serta diperjualbelikan dengan ilegal.

Tapi, dalam hati yang naif saya juga bertanya-tanya: adakah pawang Topeng Monyet yang baik hati dan menyayangi monyet yang telah memberinya nafkah laiknya sahabat?

wallahualam-bissawab.

sita.

Helmku Sayang, Iklanmu Malang



Siang tadi saya harus mengambil beberapa uang tunai di atm. Setelah berpamitan dengan Agni teman sekantor, membawa dompet dan kartu atm serta memakai helm dan memasang talinya hingga berbunyi klik (!), :) saya bergegas berangkat ke bank terdekat dengan naik motor.

Bergerak santai, dari kantor saya mengarah ke utara dan berbelok ke kanan melewati lampu bangjo dan pasar gading. Tidak jauh dari pasar saya langsung tertegun kaget pada sebuah baliho lumayan besar yang terpampang di atas kepala saya.. UWOOOW!!! menarik sekali baliho ini... Sayang sekali saya terlanjur bablas, meskipun saya bela-belain balik lagi sepulang kerja untuk mengambil gambarnya.

Hahaha.. Rasanya saya seperti terbawa ke akhir dekade 90-an melihat warna dan gaya iklan layanan masyarakat tersebut.. Masa-masa dulu saya menghabiskan waktu berjalan kaki ke SD sambil melihat baliho di sepanjang jalan. Wajah model ibu-ibu, eh, mbak-mbak di baliho itu, dandanannya, pemilihan warna, gradasi dan fonts.. well, kecuali jilbabnya yang secara jelas menunjukkan kepopuleran islamisasi (atau arabisasi?) yang belakangan terjadi di sini.

The shut doors and rusty locks of Pecinan






First house that caught my attention! What a nice arrangement!
Last week I had the chance to visit an opening of my art photographer-friends' exhibition at Semarang, Central Java. In two days and a night, me and my friends were walking, well frankly, taxi-ing around the city and got to check some tourism spots we googled days earlier. 

We stayed in a small budget-hotel at Pecinan, the chinese-community kampung or what-so-called China Town in the center of Semarang. Wake up earlier in the morning, I sneaked to have my me-time, snap-shoting the houses nearby the Hotel using my new-cheapo Fuji pocket camera. Old houses with a mix of Chinese-Dutch style in da neighborhood!


Thanksgiving



Halo mom, an illustration I did in 2007, intentionally contributed to the mother-earth due to the climate change, yet I did a little initiative to crop the pic… and… Voila! here comes a nice illustration dedicated for my mom for this Thanksgiving!

-Thanks mom, you have inspired me a lot :-*

Borobudur, the Missing Beauty.

drawing on bodhi leaf, courtesy of the photographer (not me!)
Borobudur, the Missing Beauty.

Bukan, bukan candi yang saya maksudkan dengan cantik disini. Walaupun memang saya akui candi Borobudur cantiknya bukan main, mempesona, menjerat malah. Namun jeratan candi Borobudur ini saya kira telah melenyapkan kecantikan yang lain, indahnya alam dan hasil budaya yang lebih hidup, yang mengitari, melengkapi poros kemegahan candi itu sendiri.

Memang, sejak diketemukannya reruntuhan candi, kala itu Indonesia masih berada di bawah jajahan Belanda, candi Borobudur sudah menyerap pandangan seluruh masyarakat Indonesia, bahkan juga dunia. Dan hingga kini, begitu dahsyatnya hasil temuan itu, membuat semua pihak berkejar-kejaran mendapatkan keuntungan dari candi Borobudur. Sektor pariwisata tentunya, yang menjadi sumber keuntungan materiil, tak dipungkiri sebagai inti dari semua masalah yang kemudian mengakar di kawasan Borobudur.

Media Milik Siapa?

the invisible hands, computer art, by me, 2009

Beberapa hari ini aku lagi demen banget membicarakan media. Tentang media Singapura yang menyiarkan berita meninggalnya mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) dari Indonesia, David Hartanto Widjaja.

David dikabarkan bunuh diri setelah menikam salah satu dosen di universitas tersebut. Sungguh menyedihkan. Tapi disini aku nggak bicara tentang kisah David. Kalau mau ceritanya lihat referensi di bawah :)

Cuma cross posting dari milist HI 2005, ini mungkin bisa jadi obrolan yang menarik.

Pertanyaan yang diajukan salah satu temanku, Sururi, membuatku ikut berpikir
"apakah media sedang melakukan framing?"


Green and Modern City of S’Pore

Di Orchard Rd. SG, 2009
It was lucky me going to the Singapore for the first abroad experience. Singapore seems to be a very modern country for me. The city planning is so neat. There are a lot of great and modern architectural buildings in the middle of green city forest. Various birds are flying above the buildings. High variety of trees can also be found in the city forest nearby, almost everywhere in the city. The trees are not only various, but also old and well grown. Instead of that, developing project of buildings is covered with high fence, so that nobody is being inconvenience near the project. It looks as if the government care about resident service very well. But one thing that disturbs me is that in Singapore the prices were pretty high compared with Indonesian price. It is just because the country of Singapore is actually lack of natural resources. They import almost everything, so the production process costs higher.

Abadikan dengan coretan

Dua hari yang lalu, Sita secara sengaja melupakan sebuah pertemuan dengan seorang rekan komunitas, Elanto Wijoyono. Pertemuan dengan Joy itu, panggilan keren Elanto, seharusnya terjadi di siang bolong selepas kondangan pernikahan teman Sita, namun apa daya ternyata tuhan berniat lain.

Hujan mengguyur Jogja seharian. Tak begitu deras sebenarnya, tetapi cukup membuat malas jika harus berbasah-basah ria demi sebuah formulir fotokopian dari Joy. Apalagi waktu itu Sita hanya nebeng naik motor bersama sahabat. Manapula masih terdesak waktu karena harus datang kuliah di kampus Sadhar Mrican tepat pukul dua. Akhirnya niat bertemu Joy harus diundur dengan segera.

Sita Sarit • 2018-2019